Lelaki. Berlari menerobos hujan menuju halte. Langkah tak sampai. Tubuhnya meleleh dikecup ribuan rintik. Pasrah mengalir menembus tanah. Menelusuri jalur-jalur air, menelusuri waktu-waktu boemi, dan terisap ke tangki mobil air isi ulang. Masuk ke galon besar. Sehari, dua hari, pindah ke galon kecil di sebuah ruang di lantai 33 gedung perkantoran pusat kota. Perempuan. Memuaskan… [Read more…]
Lama lelaki itu memandang jam melingkar di pergelangan tangan. Matanya tajam seolah mencari jawaban di balik tiga jarum yang menggiliri deretan angka romawi. Diusapnya kaca yang melindungi jarum-jarum dan angka-angka itu dari amarah tertahan akibat ketidakjelasan janji pertemuan. Pikiran lelaki itu terus bekerja. Kenapa tidak menghubunginya? Ia mengambil ponsel. Jempolnya menari-nari di atas keypad. Sinyal… [Read more…]
Status sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga membentuk Sabungan menjadi pribadi manja. Ia kerap mengabaikan ucapan orangtua terutama jika berkaitan dengan pekerjaan. Orangtua diperlakukan tak lebih dari sapi perah untuk memenuhi kegiatannya berjudi dan minum minuman keras setiap hari. Akibat kalah berjudi Sabungan berniat menjual ulos-ulos milik ibunya. Ia mengambil semua ulos yang disimpan ibunya… [Read more…]
Sampai juga. Si Bange memperhatikan rumah baru Tapa Mahameru tak percaya. Rumah yang begitu kecil dibandingkan rumah Tapa Mahameru selama ini. Saat mencari alamat rumah baru Tapa Mahameru pun Si Bange berkali-kali bertanya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin bisa di pinggiran kota? Masih dengan rasa heran, Si Bange turun dari mobil. Menuju pintu depan melintasi… [Read more…]
ombak berlari menampar bibir pantai ciptakan irama nada di kedamaian danau kumpulan air biru tergenang berayun pantulkan cahaya terang ke langit biru pegunungan hijau pagari cantik danau bagai benteng yang lindungi hidup di kerajaan mulia nyanyian alamku teruslah bertahan jangan pernah bosan beri kami kedamaian /wisma agape tomok/10 juni 2000/
Januari 29, 2012
0