<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MEDAN ISSUE</title>
	<atom:link href="http://medanissue.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://medanissue.wordpress.com</link>
	<description>Karena Mengekspresikan Diri Adalah Hak Asasi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 05:46:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='medanissue.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>MEDAN ISSUE</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://medanissue.wordpress.com/osd.xml" title="MEDAN ISSUE" />
	<atom:link rel='hub' href='http://medanissue.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>see you soon, buddy   &#8211; 01</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/29/see-you-soon-buddy-01-2/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/29/see-you-soon-buddy-01-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 05:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[et cetera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki. Berlari menerobos hujan menuju halte. Langkah tak sampai. Tubuhnya meleleh dikecup ribuan rintik. Pasrah mengalir menembus tanah. Menelusuri jalur-jalur air, menelusuri waktu-waktu boemi, dan terisap ke tangki mobil air isi ulang. Masuk ke galon besar. Sehari, dua hari, pindah ke galon kecil di sebuah ruang di lantai 33 gedung perkantoran pusat kota. Perempuan. Memuaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=587&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lelaki. Berlari menerobos hujan menuju halte. Langkah tak sampai. Tubuhnya meleleh dikecup ribuan rintik. Pasrah mengalir menembus tanah. Menelusuri jalur-jalur air, menelusuri waktu-waktu boemi, dan terisap ke tangki mobil air isi ulang. Masuk ke galon besar. Sehari, dua hari, pindah ke galon kecil di sebuah ruang di lantai 33 gedung perkantoran pusat kota.</p>
<p>Perempuan. Memuaskan dahaga dengan secangkir Lelaki. Lelaki menyelinap ke ruang paling rahasia di hati Perempuan. Di sana Lelaki bernyanyi parau<span id="more-587"></span> sebab memang suaranya tak indah karena tembakau. Perempuan gelisah. Perasaannya kosong oleh entah. Pada pelangi yang melengkung terbalik membentuk garis senyum di luar jendela kaca ruang kerja ia mengadu.</p>
<p>Lelaki tak lagi menyanyi. Ia mengumandangkan puisi. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat&#8230;.*) Perempuan berteriak. Ia memecahkan jendela kaca. Lantas melompat. Menggapai pelangi dan rebah di atasnya. Semenit, dua menit, Perempuan lebur bersama pelangi dalam cahaya langit.</p>
<p>Lelaki dan Perempuan menjelma ion dalam sekat-sekat otakku. (Um&#8230; Ya, aku punya otak ternyata. Hahaha.) Mereka menuturkan kisah mengada. Lalu dengan malu-malu memintaku menceritakan kepada kalian. Kalian suka atau tidak, tapi begitulah. Hujan selalu punya banyak cerita.</p>
<p>Di usia sekarang, masih maukah kalian bermain dalam kepungannya? Bergumul. Berkejaran. Merayakan kebebasan ala bocah. Atau kalian lebih memilih mandi hujan dalam ruang-ruang maya? Terserahlah. Hujan di sini semakin deras. Aku sudahi saja. Khawatir PLN mengulah dan kisah Lelaki-Perempuan ini tak sampai kepada kalian.</p>
<p>Sampai jumpa.</p>
<p>Aku pun berlari menerobos hujan menuju halte. Langkah tak sampai. Tubuhku meleleh dikecup ribuan rintik. Pasrah mengalir menembus tanah. Menelusuri jalur-jalur air, menelusuri waktu-waktu bumi, dan seterusnya, dan seterusnya&#8230; (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">/medan/29 januari 2011/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*) Aku Ingin &#8211; Sapardo Djoko Damono</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=587&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/29/see-you-soon-buddy-01-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Nirkabel</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/27/waktu-nirkabel/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/27/waktu-nirkabel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 10:39:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Lama lelaki itu memandang jam melingkar di pergelangan tangan. Matanya tajam seolah mencari jawaban di balik tiga jarum yang menggiliri deretan angka romawi. Diusapnya kaca yang melindungi jarum-jarum dan angka-angka itu dari amarah tertahan akibat ketidakjelasan janji pertemuan. Pikiran lelaki itu terus bekerja. Kenapa tidak menghubunginya? Ia mengambil ponsel. Jempolnya menari-nari di atas keypad. Sinyal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=584&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama lelaki itu memandang jam melingkar di pergelangan tangan. Matanya tajam seolah mencari jawaban di balik tiga jarum yang menggiliri deretan angka romawi. Diusapnya kaca yang melindungi jarum-jarum dan angka-angka itu dari amarah tertahan akibat ketidakjelasan janji pertemuan.</p>
<p>Pikiran lelaki itu terus bekerja. Kenapa tidak menghubunginya? Ia mengambil ponsel. Jempolnya menari-nari di atas <em>keypad</em>. Sinyal tersambung. Ia menunggu sambil matanya mengitari sekeliling. Tiba-tiba ia putuskan sambungan.<span id="more-584"></span> Jagad Insani tak boleh melanggar aturan.</p>
<p>Kembali ia menempelkan pandang pada jam tangan. Benar-benar warga negara yang fanatik dengan keindonesiaan. Amarah makin tak tertahan. Negeri ini pastilah bangga memiliki warga negara yang benar-benar mengenal dan memahami budaya.</p>
<p>Waktu memang tak pernah mahal di sini. Mungkin karena sifat kesederhanaan penduduk. Atau, adanya subsidi pemerintah terhadap waktu. Seandainya ada oknum nakal yang menyelundupkan waktu dari luar negeri pastilah akan laris manis bak kacang goreng di pasar murah.</p>
<p>Ia menarik nafas. Mengistirahatkan pikiran sejenak. Disulutnya sebatang rokok. Ditiupkan semua hal yang berlakon di pikiran. Dibiarkan bermain dengan asap rokok dari mulut-mulut lain, dengan hal-hal yang keluar dari pikiran orang-orang di terminal.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Terminal adalah asal Jagad Insani. Di tempat ini ia memaklumkan tangis pada satu malam. Di bawah jendela sebuah loket bus antar kota antar provinsi. Petugas loket yang menemukannya kemudian membawa pergi. Diam-diam dengan mengendap-endap. Menuju rumah kontrakan di bantaran rel.</p>
<p>Kepada siapapun petugas loket tak melaporkan temuannya. Ia tak bertanya bagaimana bayi itu muncul. Pun tak ambil pusing siapa meletakkan di sana. Ia dan istrinya mengangkat bayi itu sebagai anak. Demi keamanan kisah, pasangan petugas loket-penjual sayur itu pindah rumah ke bantaran sungai.</p>
<p>Di lingkungan baru petugas loket dan istrinya mengakui Jagad Insani sebagai anak mereka. Meski tanpa mereka akui pun sesungguhnya bukan masalah. Sebab tetangga mereka, warga bantaran sungai, tak perduli. Urusan makan yang terutama. Terlalu rumit memikirkan hal-hal lain di tengah jepitan kondisi.</p>
<p>Keberadaan Jagad Insani hanya diperdulikan orang-orang di terminal. Pedagang asongan, penyemir sepatu, petugas pengutip retribusi, pemilik warung tempat si petugas loket melepas penat, supir-supir bus, dan karyawan perusahaan bus lain. Orang-orang itu bertanya siapa Jagad Insani.</p>
<p>Si petugas loket tak pernah menceritakan tentang kehamilan istrinya. Ia tak pernah mengundang ke acara syukuran kelahiran anak Jagad Insani. Dengan segala dalih si petugas loket mengemukakan alasan mengapa ia tidak memberi tahu kehamilan istri dan tidak mengadakan syukuran kelahiran anak.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lelaki itu, Jagad Insani, semakin gelisah. Jika tak mengingat garis aturan kerja, ia sudah meninggalkan terminal. Hampir satu jam dari kesepakatan. Kaca jam tangan semakin mengkilap digosok-gosok jempol tangan. Ia menyandarkan punggung. Memejamkan mata. Sambil tetap menjaga kewaspadaan.</p>
<p>Samar-samar telinganya menangkap berita dari televisi tak jauh dari tempatnya menunggu. Bom meledak. Ia menajamkan telinga dengan tetap memejamkan mata. Empat puluh satu orang tewas. Jagad Insani menegakkan tubuh. Sebuah kacamata hitam telah terpasang melindungi sepasang matanya.</p>
<p>Ia melirik jam tangan sekali lagi. Ancaman tepat waktu dan tepat sasaran. Entah bagaimana si pelaku teror menepati ancaman akan menewaskan 41 orang. Jagad Insani tetap menajamkan ingatan. Korban tewas laki-laki mencapai 23 orang dan perempuan 18 orang. Janji si peneror kembali tepat.</p>
<p>Dering ponsel menyentak pertanyaan-pertanyaan benak. Nomor kantor. Ia melaporkan situasi yang ia hadapi. Kepalanya mengangguk. Mengikuti perintah untuk tetap di tempat sampai ada perintah berikutnya. Sebagai seorang yang telah menyerahkan diri pada sumpah ia menurut.</p>
<p>Sebungkus permen karet kembali ia buka. Mulutnya bergerak mengunyah. Tak lupa tetap awas memperhatikan sekeliling. Merekam wajah-wajah yang lalu lalang melintasi. Sesekali ia melirik televisi. Menyimak setiap laporan reporter dari lokasi kejadian yang disiarkan langsung.</p>
<p>Akhirnya informan yang ia tunggu menghubungi. Jagad Insani menekan geram. Ia tak ingin sang informan tersinggung. Institusinya membutuhkan setiap detail informasi dari informan yang bersedia membuka mulut. Jagad Insani menyerahkan pembicaraan awal kepada sang informan.</p>
<p>“Seseorang mengawasimu,” ucap sang informan dari sambungan, “Arah jam 11.”</p>
<p>Jagad Insani mengarahkan mata ke tempat yang ditunjuk sang informan. Sebuah warung kopi. Seorang lelaki berseragam duduk sendiri membaca koran. Jagad Insani meminta sang informan memutuskan sambungan. Ia lalu duduk bersandar dengan posisi wajah menengadah.</p>
<p>Ia memperhatikan lelaki berseragam dari balik kacamata hitam. Tak salah yang dikatakan sang informan. Lelaki berseragam memperhatikannya. Ini yang membuat sang informan tak memunculkan diri. Mengapa aku lalai? Satu jam lebih. Aku bisa saja menjadi sasaran tembak.</p>
<p>Ponsel ia keluarkan. Sekali pencet tombol, saluran ke informan terhubung. Jagad Insani menyampaikan sebuah pesan. Ia bangkit dan melangkah. Menuju arah selatan menjauhi terminal. Dari pantulan dinding mobil di sekitarnya ia melihat bayangan lelaki berseragam mengikuti.</p>
<p>Jagad Insani mengatur langkah agar lelaki berseragam tak kehilangan jejaknya. Ia bermaksud menjebak lelaki berseragam. Di gang kebakaran pertokoan yang mulai tutup satu persatu ia berbalik. Secepat kilat mengacungkan pistol ke arah lelaki berseragam. Lelaki berseragam tersentak menahan kejut.</p>
<p>“Jagad,” ucap lelaki berseragam terbata, “Ini aku. Ayahmu.”</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lelaki berseragam adalah ayah Jagad Insani. Seorang lelaki yang meyakini Jagad Insani diberikan Tuhan sebagai jawaban atas doa-doanya. Bersama istrinya ia membesarkan Jagad Insani. Mengenalkan Jagad Insani pada dunia yang mereka kenal. Bantaran sungai, pasar, dan terminal.</p>
<p>Bocah yang mengisi kebahagiaan pasangan petugas loket-penjual sayur tumbuh dengan ragam cetusan pertanyaan. Ia kerap menanyakan dari mana air yang mengaliri sungai di belakang rumah mereka. Atau, kemana perginya manusia-manusia yang lalu lalang di terminal setiap hari. Atau, mengapa kita butuh sayuran.</p>
<p>Ia memperhatikan segala hal yang dia lihat di dunianya. Rupa-rupa kegiatan manusia yang ia temui setiap hari ia simak satu persatu. Ia juga gemar menirukan gerak orang-orang di sekitar. Dari semua, ia tertarik meniru gerak pencopet di terminal dan pasar.</p>
<p>Diam-diam Jagad Insani mempraktikkan aksi pencopet. Hari demi hari ia semakin mahir. Sampai satu hari – hari terakhir ia di terminal – aksinya ketahuan. Korban berteriak. Jagad Insani panik. Ia berlari ke luar terminal. Gang kebakaran pertokoan di selatan terminal menjadi tujuan bersembunyi.</p>
<p>Baru akan tiba di mulut lorong, sebuah mobil memotong langkah kencang kaki kanak-kanaknya. Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Sepasang tangan menarik Jagad Insani ke dalam. Mobil melaju pergi.</p>
<p>Pasangan petugas loket-penjual sayur kemudian melaporkan penculikan tersebut kepada pihak kepolisian. Hari demi hari, tahun demi tahun. Kasus penculikan Jagad Insani mengendap. Tak membuahkan hasil. Si petugas loket dan istrinya kembali pasrah dalam doa-doa.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Jagad Insani menyingkirkan kegelisahan. Bayangan penculikannya mengulang di benak. Ia perlahan ingat. Ia pernah mengalami penculikan. Di mulut gang tempat ia berhadapan dengan lelaki berseragam yang mengaku sebagai ayah. Pistol semakin kencang ia acungkan ke arah lelaki berseragam.</p>
<p>“Tuhan menjawab doa-doa kami,” suara lelaki berseragam tercekat, “Ayah dan ibu percaya kamu akan kembali, Anakku.”</p>
<p>Lelaki berseragam mencoba meyakinkan Jagad Insani. Ia menyeret langkah mendekat. Ia ingin memeluk anak yang ia yakini pemberian Tuhan. Lelaki berseragam yang masih setia menjaga loket ini ingin memuaskan kerinduan bertahun. Berkali-kali ia menyerukan nama Tuhan sebagai ungkap syukur.</p>
<p>“Berhenti,” suara informan di belakang lelaki berseragam memecah suasana.</p>
<p>Belum sempat petugas loket berbalik, sang informan telah melepaskan tembakan. Jagad Insani yang tersadar terlambat mencegah. Lelaki berseragam yang dulu menyelamatkannya dari gigitan angin malam tersungkur lima langkah di hadapan.</p>
<p>Jagad Insani diam. Ingatan atas kisah penculikan serta hari-hari di pasar dan terminal semakin jelas. Ayah dan ibu. Ayah yang tersungkur bermandi darah. Jagad Insani menatap tajam sang informan. Ia mengarahkan pistol kepada informan. Cukup sekali tembak.</p>
<p>“Aku hanya bermaksud menyelamatkanmu,” ucap informan menahan sakit di dada. Ia masih sempat menunjuk lelaki berseragam sebelum tubuhnya kaku.</p>
<p>Ponsel Jagad Insani berdering. Nomor kantor. Atasannya memerintahkan segera meninggalkan lokasi. Ia menurut sambil melihat jam tangan. Menghitung waktu. Tak sampai dua menit, bom meledak. Menghancurkan gang kebakaran pertokoan hingga radius 200 meter. Terminal dan pasar ikut hancur berkeping. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">/Medan/04 september 2004 /</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=584&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/27/waktu-nirkabel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Sasada</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/23/anak-sasada-2/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/23/anak-sasada-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 16:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku & film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Status sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga membentuk Sabungan menjadi pribadi manja. Ia kerap mengabaikan ucapan orangtua terutama jika berkaitan dengan pekerjaan. Orangtua diperlakukan tak lebih dari sapi perah untuk memenuhi kegiatannya berjudi dan minum minuman keras setiap hari. Akibat kalah berjudi Sabungan berniat menjual ulos-ulos milik ibunya. Ia mengambil semua ulos yang disimpan ibunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=553&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/anak-sasada.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-554" title="Anak Sasada" src="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/anak-sasada.jpg?w=594" alt=""   /></a>Status sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga membentuk Sabungan menjadi pribadi manja. Ia kerap mengabaikan ucapan orangtua terutama jika berkaitan dengan pekerjaan. Orangtua diperlakukan tak lebih dari sapi perah untuk memenuhi kegiatannya berjudi dan minum minuman keras setiap hari.</p>
<p>Akibat kalah berjudi Sabungan berniat menjual ulos-ulos milik ibunya. Ia mengambil semua ulos yang disimpan ibunya di lemari. Tangis ibunya tak mampu menghentikan Sabungan.<span id="more-553"></span> Beruntung, seorang tetangga yang mendengar keributan di rumah mereka mendatangi dan mencegah niat Sabungan.</p>
<p>Merasa keluarga tak mengerti keinginannya, Sabungan memutuskan merantau. Ia menuju Medan tanpa bekal pendidikan dan keahlian khusus. Sabungan bekerja serabutan. Tak puas dengan penghasilan kecil, ia mencari jalan pintas dan terlibat masalah dengan satu kelompok penjahat pimpinan Big Pane. Bagaimana sesungguhnya wajah kota perlahan-lahan terlihat oleh Sabungan.</p>
<p>Film Anak Sasada dalam dialog bahasa Batak Toba menggambarkan realitas kemiskinan perdesaan di Tapanuli. Namun di balik gambaran visual tersebut, film ini membenturkan realitas sosio-ekonomi itu dengan kebudayaan (kebiasaan?) keluarga Batak Toba memperlakukan anak laki-laki.</p>
<p>Anak laki-laki sebagai penyambung garis keturunan bagi sebagian besar masyarakat Batak Toba adalah segala-galanya. Orangtua cenderung memenuhi semua permintaan anak laki-laki. Apalagi jika anak laki-laki tersebut merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga. Perlakuan ini dialami Sabungan yang hanya bersaudarikan Hinca. Ia tumbuh sebagai orang yang selalu meminta.</p>
<p>Pontyanus Gea sebagai sutradara cakap mengarahkan aktor dan aktris. Meski berbekal ilmu sinemotografi dari Italia, ini bukan pekerjaan mudah baginya. Sebab tak semua pemain berdarah Batak Toba. Sebagian pemain berdarah Batak Toba pun, dalam pengamatan saya di lokasi syuting, terlihat kesulitan mengucapkan dialog. Kesulitan bahasa ini dipecahkan dengan menggandeng seorang Batakolog, Manguji Nababan, sebagai penyelaras bahasa.</p>
<p>Keseluruhan produksi Anak Sasada yang skenarionya ditulis budayawan Thompson HS ini memakan waktu 40 hari dengan mengambil lokasi syuting di Medan, Pantai Cermin, Bakkara, dan Balige. Pada 27 Juni 2011 lalu film ini diluncurkan dalam bentuk VCD sebanyak 50.000 set (seri 1 dan seri 2). (*)</p>
<p>Produksi : Costellazione / Sutradara : Pontyanus Gea / Produser : Emilia Sarumaha / Penulis Skenario : Thompson HS / Pemain : Ebenezer Silalahi, Widya Minar Christine, Ojax Manalu, Taufiksyah Ismail, SE Prihandy / @ 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=553&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/23/anak-sasada-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/anak-sasada.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Anak Sasada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Medan Puisi</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/22/medan-puisi/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/22/medan-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku & film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=548&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/medan-puisi.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-549" title="medan-puisi" src="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/medan-puisi.jpeg?w=594" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/548/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/548/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=548&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2012/01/22/medan-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://medanissue.files.wordpress.com/2012/01/medan-puisi.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">medan-puisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahun Baru</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/31/tahun-baru/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/31/tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 20:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cakap si bange]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[saut sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[tani]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[Sampai juga. Si Bange memperhatikan rumah baru Tapa Mahameru tak percaya. Rumah yang begitu kecil dibandingkan rumah Tapa Mahameru selama ini. Saat mencari alamat rumah baru Tapa Mahameru pun Si Bange berkali-kali bertanya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin bisa di pinggiran kota? Masih dengan rasa heran, Si Bange turun dari mobil. Menuju pintu depan melintasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=529&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Sampai juga. Si Bange memperhatikan rumah baru Tapa Mahameru tak percaya. Rumah yang begitu kecil dibandingkan rumah Tapa Mahameru selama ini. Saat mencari alamat rumah baru Tapa Mahameru pun Si Bange berkali-kali bertanya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin bisa di pinggiran kota?</p>
<p style="text-align:left;">Masih dengan rasa heran, Si Bange turun dari mobil. Menuju pintu depan melintasi halaman yang dipenuhi aneka tumbuhan. Ia mengetuk. Sepi. Ia ke belakang melalui halaman samping . Pantas saja. Tapa Mahameru sibuk memberi makan ikan-ikan di kolam.</p>
<p style="text-align:left;">“Woi,” teriak Si Bange<span id="more-529"></span> memanggil.</p>
<p style="text-align:left;">Tapa Mahameru melihat dan mendatangi sahabatnya itu. “Bisa sampai juga kau,” Tapa Mahameru menyalam Si Bange.</p>
<p style="text-align:left;">“Ini?,” Si Bange menyimpulkan rasa penasaran dan herannya dalam satu kata.</p>
<p style="text-align:left;">“Ayo, masuk,” Tapa Mahameru mengajak Si Bange ke dalam.</p>
<p style="text-align:left;">Si Bange masih terheran-heran. Rumah tidak berpagar dan pintu tidak dikunci. Jendela terbuka tanpa ada jerjak. Ia memandangi ruang tamu yang hanya berukuran 6×4 meter. Hanya ada seperangkat kursi tamu dari rotan dengan alas duduk berlapis busa tempat ia duduk sekarang. Ditambah sebuah televisi 21’, seperangkat komputer, dan 2 lukisan di dinding.</p>
<p style="text-align:left;">Menanggapi ekspresi heran Si Bange, Tapa Mahameru menjelaskan kondisinya saat ini. Pertengahan Desember lalu ia mengundurkan diri dari pekerjaan. Menjual semua hartanya dan pindah. Ia ingin menjalani kehidupan baru. Bertani.</p>
<p style="text-align:left;">“Bertani?”</p>
<p style="text-align:left;">“Ya. Bercocok tanam, memelihara ikan dan ayam, mengisi waktu membuat pupuk kandang. Serta menulis.”</p>
<p style="text-align:left;">Si Bange tertawa mendengar kalimat terakhir Tapa Mahameru. Dalam usia sekarang Tapa Mahameru ingin menjadi penulis.</p>
<p style="text-align:left;">“Aku sudah mulai menulis sebuah novel tentang dunia teknologi informasi. Di dalamnya akan kudeskripsikan rumus meretas situs. Aku juga baru mendapat ide memasukkan rasa tidak percayamu ini ke dalam novelku,” Tapa Mahameru tersenyum optimis.</p>
<p style="text-align:left;">“Tapi kau tidak punya pengalaman menulis.”</p>
<p style="text-align:left;">Tapa Mahameru masuk ke ruang tengah yang diset menjadi perpustakaan pribadi. Ia mengambil sebuah buku. <em>TULIS!</em><strong>.</strong> Buku kumpulan puisi Saut Sitompul. Membuka halaman 3 dan menyerahkan kepada Si Bange untuk dibaca.</p>
<p style="text-align:left;">“Pengarang ini sastrawan. Dia bisa mengatakan seperti itu karena itu dunianya. Menulis itu tidak mudah.”</p>
<p style="text-align:left;">“Tidak mudah bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hanya dibutuhkan sedikit keberanian untuk memulai. Sebentar. Aku ambilkan minuman,” ucap Tapa Mahameru sambil berlalu ke belakang.</p>
<p style="text-align:left;">Si Bange membuka kembali <em>TULIS!</em> Membaca halaman yang tadi ditunjukkan Tapa Mahameru.</p>
<p style="text-align:left;"><em> </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>ada daun jatuh</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>tulis</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>ada tanah terbakar</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>tulis</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>ada anak pipit terjatuh dari sarangnya</em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>tulis</em><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Si Bange membuang pandang ke luar. Mencari asal kicau riang burung. Tiba-tiba ia rindu pada sesuatu. (*)</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:right;">/medan/01 januari 2011/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/529/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/529/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=529&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/31/tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alam Bernyanyi</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/03/alam-bernyanyi/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/03/alam-bernyanyi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 04:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[ombak berlari menampar bibir pantai ciptakan irama nada di kedamaian danau kumpulan air biru tergenang berayun pantulkan cahaya terang ke langit biru pegunungan hijau pagari cantik danau bagai benteng yang lindungi hidup di kerajaan mulia nyanyian alamku teruslah bertahan jangan pernah bosan beri kami kedamaian &#160; /wisma agape tomok/10 juni 2000/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=523&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ombak berlari menampar bibir pantai<br />
ciptakan irama nada<br />
di kedamaian danau</p>
<p>kumpulan air biru tergenang berayun<br />
pantulkan cahaya terang<br />
ke langit biru</p>
<p>pegunungan hijau pagari cantik danau<br />
bagai benteng yang lindungi hidup<br />
di kerajaan mulia</p>
<p>nyanyian alamku teruslah bertahan<br />
jangan pernah bosan<br />
beri kami kedamaian</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">/wisma agape tomok/10 juni 2000/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/523/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=523&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/12/03/alam-bernyanyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Estafet</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/10/28/estafet/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/10/28/estafet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 05:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah ia mencuci tangan sebelum menghitung lembaran-lembaran uang penghasilannya. Mengapa harus cuci tangan? Tak ada yang dikhianatinya dalam mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia bukanlah Pilatus1) apalagi Iskariot2). Sandang, pangan, dan papan dipenuhinya dengan jalan lurus. Tak pernah pula ia mencuci tangan setelah menghitung lembaran-lembaran uang penghasilannya. Mengapa harus cuci tangan? Tak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=504&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak pernah ia mencuci tangan sebelum menghitung lembaran-lembaran uang penghasilannya. Mengapa harus cuci tangan? Tak ada yang dikhianatinya dalam mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia bukanlah Pilatus1) apalagi Iskariot2). Sandang, pangan, dan papan dipenuhinya dengan jalan lurus.</p>
<p>Tak pernah pula ia mencuci tangan setelah menghitung lembaran-lembaran uang penghasilannya. Mengapa harus cuci tangan? Tak ada yang salah dengan penghasilannya. Ini murni hasil keringat sendiri. Bukan hasil manipulasi apalagi korupsi.<span id="more-504"></span> Bisnis – semoga pedagang kecil seperti dia boleh menggunakan istilah ini – yang ditekuninya tak memiliki ruang dan tak memberinya kesempatan untuk melakukan itu.</p>
<p>Lembaran-lembaran uang hasil usahanya diam rapi di laci beca tempat ia menggelar dagangannya. Rokok, air buah, air lengkong, panganan kecil, dan air kemasan botol bersanding mesra. Pemandangan yang menarik kalau diperhatikan. Produk hasil pekerjaan tangan orang-orang yang tersisih dari pemujaan hedonisme dan produk hasil pekerjaan buruh di pabrik-pabrik kaum kapitalis akur tersusun di becanya.</p>
<p>Laki-laki empat puluhan itu tersenyum saat menerima selembar pecahan seribu rupiah dari pembelinya. Dua batang rokok kembali berkurang. Ia membayangkan betapa bahagianya ia saat akan membayar cicilan terakhir becanya. Sebentar lagi beca ini akan menjadi milikku, batinnya.<br />
Selembar uang seribu rupiah itu pun diam bergabung dengan kawan-kawannya. Lecek, tapi ia puas. Ia sadar bahwa lembaran-lembaran lecek itulah yang pantas diterimanya. Ia tak pernah menggerutu dengan kondisi lembaran atau pecahan yang diberikan oleh para pembelinya. Toh semua bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup.</p>
<p>“Pak, minta duit mo beli buku,” pinta anak perempuannya yang datang tiba-tiba dan berdiri di sampingnya. Ia setengah terkejut namun segera menguasai diri. Dipandanginya anak perempuannya itu.</p>
<p>“Dasi dan topimu mana?”</p>
<p>Anak perempuan berseragam putih biru itu hanya menunjuk tasnya.</p>
<p>“Kok gak dipake?”</p>
<p>“Malas ah. Uci kan gak pernah pengen jadi direktur atau jadi polwan. Ngapain pake dasi dan topi?”</p>
<p>“Lantas mo jadi apa?”</p>
<p>“Uci mo jadi kayak Tia AFI. Makanya, nanti kalo beca kita udah lunas, Bapak beli ponsel biar bisa kirim sms untuk Uci.”</p>
<p>“Sebentar,” ia menghentikan ucapan anak perempuannya. Tangannya sibuk membuka air kemasan botol yang diminta pembeli. Dua lembar ribuan kembali mengalir ke laci becanya.</p>
<p>“Berapa uang bukumu?”</p>
<p>“Tiga belas ribu. Untuk dua buku.”</p>
<p>Ia menarik nafas. Tiga belas ribu harus keluar. Apa pembayaran itu tak bisa ditunda? Ada yang berperang di batinnya dan itu tergambar jelas di mimik wajahnya.</p>
<p>“Besok-besok juga bisa kok, Pak,” suara anaknya lirih. Ia menangkap apa yang sedang bergejolak di dalam diri Bapaknya. Ia siap untuk kembali meminta penundaan pembayaran kalau namanya dipanggil guru saat menagih uang buku. Ia siap kalau harus diomeli lagi dan diberi nasihat yang memuakkan, belajarlah memenuhi kewajiban.</p>
<p>Bapak anak itu bertatapan. Ia sebenarnya tak ingin menunjukkan gejolak di dalam dirinya kepada anak perempuannya itu.</p>
<p>“Apa yang Bapak dan Ibu lakukan semua untuk kebutuhan hidup kita. Untuk makan, sewa rumah, dan juga untuk biaya sekolah kamu,” sebuah senyum tergambar di wajahnya. Tulus. Anak perempuannya tahu pasti itu.<br />
Dibukanya laci dan mengambil beberapa lembar uang.</p>
<p>“Hitung dulu.”</p>
<p>Anak perempuan itu menghitung lembaran-lembaran uang itu. Genap seperti yang dia butuhkan. Ia lantas permisi meninggalkan Bapaknya dan melanjutkan langkah ke sekolah. Laki-laki itu memandang anak perempuannya sampai hilang ditelan perempatan jalan. Kemudian kembali fokus pada pekerjaannya, pada usahanya, pada barang dagangan di becanya.</p>
<p>Sepuluh tahun sudah ia menekuni usahanya sejak ia dipecat perusahaan yang mempekerjakan dia. Kesalahannya tidaklah besar tapi dianggap membahayakan perusahaan – atau orang-orang di level atas perusahaan, hanya mereka yang tahu – oleh direktur utama.</p>
<p>Ia hanya membacakan Teka teki yang Ganjil3)-nya Wiji Thukul pada pesta ulang tahun anak Komisaris Utama perusahaan tempat ia bekerja. Rekan-rekannya sudah memperingatkan untuk tidak membacakan puisi itu, tapi dia tetap berkeras. Dia tahu kalau pergerakan buruh dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu adalah sesuatu yang diharamkan waktu itu. Dia tahu segala risikonya dan dia siap menerimanya.</p>
<p>Ia kehilangan pekerjaan. Ia kehilangan kesempatan untuk mendapat tempat dan posisi yang enak di perusahaan tanpa harus berdebu ria di atas trotoar ini. Sepuluh tahun berlalu, ia tetap menikmati hidup.</p>
<p>Di tempat ini ia melayani segala macam jenis pembeli. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantor, supir angkot, abang beca, sampai tamu hotel di depan tempat ia berjualan yang iseng turun dari lantai sembilan hanya untuk menikmati nagasari buatan isterinya.</p>
<p>Tempat ini memang strategis dan menjanjikan. Begitulah perhitungannya. Halte yang diisi berganti oleh beragam jenis manusia. Entah berapa kali model halte ini berubah, ia tidak ingat. Yang dia ingat hanyalah warna halte yang baru berubah sekali.</p>
<p>Zaman Orde Baru dulu halte ini berwarna kuning. Masuk pergantian rezim halte ini pun berubah warna menjadi merah. Mungkinkah halte menunjukkan kondisi perpolitikan republik ini? Ia tidak lagi memperdulikan hal-hal seperti itu. Buatnya yang penting kebutuhan hidup terpenuhi. Dan yang lebih penting lagi tak ada petugas pamong praja yang berpatroli atas nama ketertiban kota.</p>
<p>Ia takut kalau harus adu kekerasan lagi dengan petugas-petugas itu. Ia takut kalau harus kehilangan beca lagi. Ia sering harus mengganti beca karena becanya selalu jadi korban penggusuran – kata penertiban yang terkesan ramah sangat bertolak belakang dengan tindakan petugas pamong praja yang mengandalkan pentungan dan kekerasan – untuk mengindahkan kota.</p>
<p>Ia memeriksa kembali barang dagangannya. Air jeruk, air lengkong, dan kue-kue buatan isterinya tinggal sedikit lagi. Ia layani pembeli satu per satu. Ia semakin bersemangat. Tak dihiraukannya kebisingan jalan. Ia tak pernah hiraukan itu. Suara supir angkot yang berteriak memanggil calon penumpang, suara calon penumpang yang berteriak karena ketinggalan angkot, knalpot, suara mesin kendaraan, dan klakson. Terasa sangat dekat dan mengepung. Seolah hendak menerkamnya. Sirine. Seperti hendak membunuhnya. Hendak merampas impian sederhananya. Semua memuncak.</p>
<p>Sedikit lagi, ia menatap kosong barang dagangannya. Wajah-wajah angker yang menyetrum darahnya. Gelap. Semakin banyak yang mendekati becanya. Berkerumun. Memacetkan jalan. Tak ada lagi ruang bagi kendaraan bermotor. Entah dari mana datangnya, tapi halte ini telah menjadi lautan manusia. Sedangkan ia diam. Diam disiram terik matahari. Diam terbakar semangat dan dendam yang memuncak. Diam dimakan ketakutannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Tak pernah ia mencuci tangan sebelum menghitung lembaran-lembaran uang penghasilannya. Tak pernah pula ia mencuci tangan setelah menghitungnya. Bapaknya mengajarkan demikian. Gadis usia empat belas tahun itu tekun membaca sebuah buku sambil sesekali melihat lalu lalang orang di depannya dan orang-orang yang menunggu angkot. Berharap orang-orang itu membeli dagangannya.</p>
<p>Di sinilah tempatnya usai jam pelajaran sekolah sampai azan maghrib mengisi senja. Ia menggantikan ibunya yang bekerja dari pagi hingga ia datang sepulang sekolah. Dan ia digantikan abangnya, seorang buruh bangunan, yang bekerja dari maghrib sampai malam.</p>
<p>“Rokoknya sebungkus, Dik,” seorang laki-laki menunjuk ke kotak rokok berwarna putih.</p>
<p>“Makasih, Bang,” ia tersenyum menerima selembar pecahan lima ribu rupiah. Sebentar lagi beca ini akan jadi milik keluargaku. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;">/medan/agustus 2004/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>catatan:</p>
<ol>
<li>Pontius Pilatus seorang wali negeri Kekaisaran Romawi yang memerintah di wilayah Israel pada jaman Yesus yang mengeluarkan surat perintah penyaliban Yesus. Setelah mengeluarkan surat perintah penyaliban ia mencuci tangannya dengan maksud untuk membersihkan diri bahwa ia tidak terlibat dengan urusan apapun yang akan terjadi menyangkut penyaliban itu.</li>
<li>Yudas Iskariot adalah salah seorang dari 12 murid Yesus yang kemudian mengkhianatinya.</li>
<li>Diambil dari kumpulan puisi Wiji Thukul <em>Aku Ingin Jadi Peluru</em></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=504&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/10/28/estafet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>From Samosir With Love</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/22/from-samosir-with-love/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/22/from-samosir-with-love/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 06:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cakap si bange]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[samosir]]></category>
		<category><![CDATA[rusia]]></category>
		<category><![CDATA[beruang merah]]></category>
		<category><![CDATA[tuktuk]]></category>
		<category><![CDATA[tigaraja]]></category>
		<category><![CDATA[majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[danau toba]]></category>
		<category><![CDATA[sistem]]></category>
		<category><![CDATA[simanindo]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari sesuatu yang kerap memanggil di kala hening. Entah apa. Namun, yang selalu tercitra di benak Si Bange setelahnya adalah Tanah Batak. Citra tersebut pun mewujud menjadi sebuah kerinduan tak tertahan yang mendorong Si Bange memanggul ransel menjejakkan kaki di tanah leluhurnya itu. Tiga generasi sudah keluarga Si Bange berada di Rusia. Kakeknya, entah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=482&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari sesuatu yang kerap memanggil di kala hening. Entah apa. Namun, yang selalu tercitra di benak Si Bange setelahnya adalah Tanah Batak. Citra tersebut pun mewujud menjadi sebuah kerinduan tak tertahan yang mendorong Si Bange memanggul ransel menjejakkan kaki di tanah leluhurnya itu.</p>
<p>Tiga generasi sudah keluarga Si Bange berada di Rusia. Kakeknya, entah mengapa, lebih memilih Negeri Beruang Merah itu ketika memutuskan merantau meninggalkan tanah kelahirannya. Mungkin karena di sanalah embrio Marxis menjadi dewasa dan akhirnya mati sebagai sebuah sistem<span id="more-482"></span>.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Hari bergerak menuju senja saat Si Bange menjejakkan kaki di Tigaraja, pelabuhan tempat bersandar kapal motor kayu yang akan membawanya ke Pulau Samosir. Dengan bekal informasi yang telah dikumpulkan jauh-jauh hari, ia memutuskan menginap di Tuktuk Siadong.</p>
<p>Dari peninsula inilah ia akan menelusuri tepian Pulo Samosir sebelum menjejakkan kaki ke Pusuk Buhit. Menemui spiritualitas masa lalu yang tersimpan utuh. Meski dibentuk modernisme masa dan ideologi tertentu, Si Bange tak ingin menafikan spiritualitas warisan leluhurnya itu.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Si Bange meninggalkan Tuktuk dengan sepeda motor yang ia sewa. Di beberapa tempat ia mengabadikan keindahan hasil proses alam itu dengan kamera. Tak hanya alam, di beberapa kampung yang dilewati, Si Bange mengabadikan gerak kehidupan masyarakat.</p>
<p>“Mau ke mana, Lae?,” tanya seorang pemuda bersahabat saat ia singgah di warung kopi di Simanindo.</p>
<p>“Pangururan, Lae. Mau ziarah ke Pusuk Buhit,” jawab Si Bange. Tak sulit baginya berkomunikasi dengan warga setempat. Bahasa Indonesia dan bahasa Batak Toba sehari-hari menjadi pengantar di keluarganya, berdampingan dengan bahasa Rusia.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Pagi masih baru sempurna. Namun, Si Bange sudah harus berkemas. Tak banyak waktu yang dimilikinya untuk tinggal di Indonesia. Selain Tapanuli, ia ingin mengunjungi Jawa. Konon, leluhurnya masih memiliki keterkaitan dengan Majapahit.</p>
<p>Menumpang kapal pertama, ia pun meninggalkan Tuktuk. Sekelompok anak muda usia mahasiswa ikut menyeberang bersama kapal itu. Begitu gembiranya mereka. Dari percakapan mereka, Si Bange menangkap anak-anak muda itu akan kembali ke Medan untuk kembali kuliah setelah libur panjang Lebaran.</p>
<p>Hanya saja, kening Si Bange mengkerut. Mereka, anak-anak muda itu, berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Tak tahukah lagi mereka berbahasa Batak? Si Bange tertawa sendiri. (*)</p>
<p style="text-align:right;">/samosir/22 mei 2010/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/482/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=482&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/22/from-samosir-with-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Helen</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/21/helen/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/21/helen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 06:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Ada tiga perempuan bernama Helen di satu-satunya kampus di kota ini. Untuk membedakan dan memudahkan mengenali, para mahasiswa memberi julukan di belakang nama mereka. Yang pertama Helen Band, yang kedua Helen Model, dan yang terakhir Helen Radio. Bukan hanya mahasiswa di kampus ini saja yang mengenal tiga Helen, tapi seluruh masyarakat terutama anak-anak muda mengenali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=476&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada tiga perempuan bernama Helen di satu-satunya kampus di kota ini. Untuk membedakan dan memudahkan mengenali, para mahasiswa memberi julukan di belakang nama mereka. Yang pertama Helen Band, yang kedua Helen Model, dan yang terakhir Helen Radio.</p>
<p>Bukan hanya mahasiswa di kampus ini saja yang mengenal tiga Helen, tapi seluruh masyarakat terutama anak-anak muda mengenali mereka.<span id="more-476"></span> Sebuah kewajaran karena mereka memiliki prestasi cemerlang di bidang mereka masing-masing. Apalagi kota ini hanya sebuah kota kecil.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Helen Band. Seorang rocker. Ia mengisi posisi vokal di bandnya dan seorang penulis lagu andal. Beberapa kali menang festival musik sebagai vokalis terbaik. Penampilannya di panggung selalu membius penonton. Tak hanya suara dan gaya, juga kecantikannya.</p>
<p>Bersama bandnya ia telah merilis dua album di kota ini melalui sebuah label independen. Permintaan untuk mengisi festival musik dan acara hiburan pun mengalir deras.</p>
<p>Kemampuannya tak hanya bernyanyi. Ia sering bermain gitar atau piano memanfaatkan waktu kosong band. Setiap menyatu dengan gitar atau piano, yang terdengar kerap alunan melankolis. Melodi kesendirian. Berbeda dengan aliran musik yang ia usung bersama bandnya.</p>
<p>Di luar penampilan atraktif dan komunikatif di atas panggung, ia adalah perempuan pendiam. Senang menyendiri. Pengaruh kehilangan sesuatu di masa lalu. Kekasih. Ya. Kekasihnya tewas akibat over dosis. Sampai kini rasa kehilangan itu belum sirna. Mungkin tak akan sirna meski ada lelaki pengganti kekasihnya.</p>
<p>Ke dalam lirik lagu ia tumpahkan semua perasaan. Dalam setiap penampilan ia selalu mengkampanyekan antinarkoba. “Drugs, drugs, drugs, go to hell,” teriaknya di setiap akhir penampilan.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Helen Model. Perempuan berwajah indo. Keturunan Rusia dan Dayak. Memiliki tinggi badan layaknya model profesional. Ia membintangi banyak iklan merek dagang produksi kota ini. Wajahnya menghiasi koran dan majalah lokal, billboard, dan stasiun televisi lokal. Suaranya pun mengisi iklan radio.</p>
<p>Ia pernah ditawari seorang fotografer dari luar negeri yang ditugaskan di kota ini untuk berpose telanjang. Jalan menuju dunia mode internasional dijadikan iming-iming. Ia mengajukan syarat, “Aku bersedia berpose telanjang jika masyarakat menyetujuinya.”</p>
<p>Si fotografer membuat pengumuman di media massa di kota ini. Masyarakat boleh memberi suara melalui saluran premium call dan sms selama satu bulan. Pengumuman yang mengejutkan dan menyita perhatian. Seluruh perbincangan di masyarakat nyaris membahas pengumuman itu.</p>
<p>Pengumuman itu bahkan menjadi pembahasan para ahli sosial, etika, hukum, dan bisnis di stasiun televisi lokal. Setiap berita dan perbincangan tentang rencana si fotografer menjadi acara prime time mengalahkan program acara televisi nasional. Iklan mengalir kencang.</p>
<p>Sebulan berlalu. Hasil <em>vote</em> diumumkan. Jumlah suara yang menyetujui melebihi jumlah suara yang menolak.</p>
<p>“Kamu benar-benar akan <em>go international</em>. Kapan kita bisa memulai pemotretan?,” tagih si fotografer.</p>
<p>“Tak ada pemotretan,” jawab Helen tenang.</p>
<p>“Suara sudah diambil sesuai dengan syarat yang kau ajukan.”</p>
<p>“Kita tak pernah melakukan kontrak tertulis mengenai persyaratan itu. Dan, siapa yang tahu hasil vote itu murni atau tidak? Bisa saja itu hasil tukanganmu. Lagipula, pilihan dan keputusanku dalam hidup sepenuhnya ada di tanganku. Bukan di tangan orang lain.”</p>
<p>Pose telanjang tak pernah ada.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Helen Radio. Karirnya sebagai penyiar dimulai dari keisengan main ke stasiun radio tempat teman kakaknya bekerja sebagai penyiar. Saat stasiun radio itu membuka lowongan penyiar. Semua penyiar di stasiun radio itu memintanya ikut melamar. Ia semula tak berminat. Namun, akhirnya menurut.</p>
<p>Ia diterima setelah melewati empat tahap seleksi. Darinya lahir ide-ide cerdas. Memberi kontribusi penting dalam menempatkan stasiun radio tersebut sebagai kiblat anak-anak muda kota ini. Jam siarannya selalu ditunggu dan menempati rating tertinggi. Dengan prestasi membanggakan, siaran selama seminggu bersama seorang rekannya dalam rangka menyambut hari kemerdekaan, tawaran menjadi MC menambah kesibukannya</p>
<p>Jika Helen Band ke mana-mana memakai motor dan Helen Model memakai mobil, ia ke mana-mana naik angkot.</p>
<p>“Buat cari ide siaran,” begitu alasannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Hal menarik dari ketiga Helen adalah prinsip hidup mereka. Bagi mereka profesi adalah profesi. Mereka tak pernah mengenakan profesi dan prestasi dalam interaksi di kampus. Mereka sama seperti mahasiswa lain. Meski tak memiliki gank dan jalan sendiri-sendiri, mereka selalu menunjukkan keperdulian terhadap kegiatan di kampus ini.</p>
<p>Bisa dekat dengan ketiga Helen adalah sebuah anugerah buatku. Bukan karena polularitas, tapi karena kerendahan hati. Mereka yang pertama kali menyapaku di hari pertama aku bekerja di kantin kampus ini. Hanya mereka yang menanyakan kondisi perutku.</p>
<p>Di waktu kosong aku selalu berbincang dengan salah satu dari mereka. Bergantian. Di satu waktu dengan Helen Band, di waktu lain dengan Helen Model, dan di waktu lain lagi dengan Helen Radio. Selalu seperti itu.</p>
<p>Mereka tak sungkan menanyakan kisahku. Aku melihat empati di mata mereka saat aku menceritakan apa yang kualami. Mereka memberi perhatian dan mendukungku agar tetap tabah dan bertahan. Mereka menjadikanku sahabat.<br />
Kepadaku mereka menceritakan kisah dan pengalaman mereka. Pekerjaan, tugas-tugas kuliah yang menumpuk, dan masalah cinta. Mereka sering mengajakku melihat pekerjaan mereka. Menambah pengetahuanku tentang dunia musik, modelling, dan penyiaran.</p>
<p>Ketiga Helen adalah icon. Garputala, band Helen, lebih dikenal sebagai Helen Band. WalkBeauty Agency, agensi Helen Model, lebih dikenal dengan sebutan Helen Agency. Dan Radio Nice FM, tempat Helen Radio siaran, lebih dikenal dengan nama radio Helen.</p>
<p>Namun, popularitas ini pula yang menjadi masalah bagi mereka.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>”Berikutnya yang sudah kamu tunggu dari seabad lalu. Helen Band,” teriak MC sebuah festival musik.</p>
<p>“Sejak kapan band ini berganti nama menjadi Helen?,” gerutu sang gitaris di belakang panggung.</p>
<p>Personil lain diam menatap Helen yang juga diam.</p>
<p>“Kalau kalian mau naik, naiklah,” ucap sang gitaris mengemasi barangnya.”Aku bukan personil Helen Band.”</p>
<p>“Kita bisa meralat ucapan MC tadi. Tak perlu protes seperti ini,” cegah sang bassis.</p>
<p>Sang gitaris tak memperdulikan.</p>
<p>Setelah bandnya dipanggil berkali-kali, Helen naik sendiri ke atas panggung dengan menyandang sebuah gitar akustik.</p>
<p>“Mewakili anak-anak Garputala, aku minta maaf karena kami tak bisa tampil utuh hari ini,” ucap Helen.</p>
<p>Ia mulai memetik gitarnya. Sebuah lagu sendu meluncur. Anak-anak muda yang telah akrab dengan musik rock yang diusung Garputala sesaat terkejut. Tapi tak lama. Mereka kemudian menikmati dua lagu yang dibawakan Helen dengan manis.</p>
<p>“Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua. Sampai ketemu,” Helen menutup penampilannya. Ia segera menemui teman-temannya di belakang panggung</p>
<p>“Kalau aku menjadi penyebab kekacauan band ini, aku minta maaf. Aku keluar. Terima kasih buat semua yang kita lewati bersama.”</p>
<p>Ia meninggalkan tempat itu. Tak dihiraukannya teman se-bandnya yang mencoba mencegah. Seorang wartawan yang menyaksikan kejadian itu langsung membuat laporan bagi surat kabarnya. Kabar keluarnya Helen pun tersiar.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Rapat mendadak di kantor WalkBeauty memutuskan kontrak Helen. Pihak agensi khawatir dengan realita di masyarakat yang menyebut WalkBeauty dengan Helen Agency. Semua kewajiban Helen dihapus dan segala kerugiannya akibat pemutusan kontrak diganti.</p>
<p>“Kami berharap kita bisa sama-sama berbesar hati menerima keputusan ini,” ucap pemimpin rapat kepada Helen, “WalkBeauty telah berbuat banyak bagimu. Jadi, kami harap kamu tidak keberatan.”</p>
<p>“Terima kasih,” ucap Helen singkat meninggalkan ruangan itu.</p>
<p>Esoknya WalkBeauty merilis berita pemutusan kontrak dengan Helen.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Helen mengakhiri siaran di hari terakhir dengan perasaan haru. Banyak pendengar menolak keputusannya keluar. Namun, ia tetap harus melakukannya. Pemilik radio terusik dengan nama radio yang diubah masyarakat menjadi Radio Helen.</p>
<p>“Kami sangat menghargai apa yang telah kau lakukan di stasiun ini…”</p>
<p>“Tapi?,” potong Helen.</p>
<p>Begini, Helen. Nama radio ini dipilih dengan tidak sembarangan. Radio ini investasi keluarga. Kamu pasti tahu betapa keluarga sangat keberatan mendengar masyarakat menyebut radio ini dengan Radio Helen.”</p>
<p>“Lantas?”</p>
<p>“Ini berat buat kita, tapi&#8230;” si pemilik tak meneruskan ucapannya.</p>
<p>“Baik. Kalau memang harus keluar, aku keluar. Aku paling tidak suka keberadaanku mengganggu kenyamanan orang. Terima kasih, Pak,” Helen mengulurkan tangan. “Jam ini akan jadi jam terakhir aku siaran di sini.”</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Mereka harus menerima satu kenyataan pahit. Dipaksa keluar dari tempat yang membesarkan mereka dan yang juga mereka besarkan. Walau begitu, mereka tak terlalu mengambil pusing. Mereka tak berubah. Tetap santai seperti tak terjadi apa-apa.</p>
<p>“Hidup jalan terus,” ucap Helen Radio.</p>
<p>“Orang bilang ambil hikmahnya,” sambung Helen Band.</p>
<p>“Kita tak akan mati hanya gara-gara sebuah keputusan. Hidup kita, kita yang punya,” tambah Helen Model.</p>
<p>Ketiga Helen bertatapan. Ada kehangatan di antara mereka. Ada bahagia di hatiku. Ketiga Helen berkumpul. Sebuah kejadian yang baru pertama ini terjadi.</p>
<p>“Tak ada yang kebetulan. Setiap kejadian punya makna. Kalian yang belum pernah berkumpul kini berkumpul di kamar kontrakanku,” aku tersenyum.</p>
<p>Mereka memandangku penuh senyum.</p>
<p>“Dan kami bisa berkumpul seperti ini karena kamu. Kamu sahabat terbaik kami,” Helen Band memegang tanganku. Meski tomboi ia tetap memiliki perasaan halus.</p>
<p>Kami pun menghabiskan malam dengan bercerita.</p>
<p>“<em>By the way</em>, kenapa kalian bertiga memiliki nama yang sama? Helen.</p>
<p>“Ayahku seorang sosialis. Ia pengagum Helen Keller. Namaku diambil dari nama itu,” ucap Helen Model.</p>
<p>“Namaku juga diambil dari nama itu. Helen Keller. Sewaktu mengandungku, ibu bertemu dengan seorang perempuan buta yang begitu semangat menghadapi hidup. Si perempuan menceritakan mengapa ia buta. Ia sempat putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Hingga seorang sahabatnya menceritakan tentang kisah Helen Keller. Persahabatan ibu dengan perempuan itu tetap awet sampai hari ini,” terang Helen Radio.</p>
<p>“Kok bisa sama?,” Helen Band menggaruk kepalanya yang tak gatal.</p>
<p>Kami lantas tertawa melihat tingkah dan ekspresinya.</p>
<p>“Namaku diberi oleh seorang sahabat ayah. Ia mengatakan kalau aku akan menjadi orang yang keras dan punya prinsip kuat seperti Helen Keller.”<br />
“Puji diri,” potong Helen Model.</p>
<p>“Sekali-sekali tak apa, kan?,” Helen Band tersenyum.</p>
<p>Perbincangan kami mengalir mengikuti malam. Semua hal jadi bahan pembicaraan termasuk rencana mereka berikutnya.</p>
<p>Helen Band memutuskan berkarir sebagai rocker solo. Sebelum memulai, ia akan mengambil waktu liburan. Sebagai cara melupakan masa lalu. Ia tak ingin lagi hidup dalam kenangan pahit.</p>
<p>Helen Model berencana mendirikan sekolah modelling dan agensi. Sedangkan Helen Radio akan kembali ke dunia radio. Tidak dengan melamar jadi penyiar. Ia berencana membeli jam siaran di sebuah radio.</p>
<p>Impian mereka benar-benar indah. Apa kita masih mungkin memiliki impian seindah itu setelah nasib yang kita hadapi saat ini? Kalaupun tak mungkin memilikinya, kita masih memiliki sebuah cinta dan pengharapan. Kita masih saling memiliki.</p>
<p>Bersama cintamu dan sahabat-sahabatku, Helen, yang setia mendampingi dan menguatkanku aku tetap hidup. Walau mereka menyarankan agar aku mencoba kembali ke rumah, aku akan tetap di sini menunggumu.</p>
<p>Percuma untuk kembali. Keluargaku tak lagi menganggap aku sebagai bagian dari hidup mereka. Apa yang kita lakukan membuat mereka marah dan membenci kita. Membenci janin yang aku kandung. Aku diusir dan kita kehilangan rencana untuk kuliah di kota kenangan itu. Namun, itu bukan masalah buatku. Aku telah menemukan kebahagian di kota pelarian ini.</p>
<p>Aku berterima kasih kau melarangku untuk menggugurkan janin ini. Kau begitu berani meyakinkanku untuk tetap memeliharanya. Keberanian yang menumbuhkan keberanianku untuk tetap berpegang pada cinta dan janjimu.</p>
<p>Kepada ketiga Helen aku meminta sesuatu.</p>
<p>“Kalau anakku lahir, cowok atau cewek, boleh tidak aku kasih nama Helen?,”</p>
<p>Mereka tertawa dan memelukku. Mereka sahabat-sahabat yang baik.<br />
Maafkan aku kalau baru sekarang membalas surat-suratmu. Aku janji setelah ini aku akan rutin mengabarimu.</p>
<p><em>cintamu</em> (*)</p>
<p style="text-align:right;">/medan/juli 2003/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=476&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/21/helen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ponsel Perdana</title>
		<link>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/19/ponsel-perdana/</link>
		<comments>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/19/ponsel-perdana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 10:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Medan Issue</dc:creator>
				<category><![CDATA[cakap si bange]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[lowongan kerja]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[sarjana]]></category>
		<category><![CDATA[tarutung]]></category>
		<category><![CDATA[telepon selular]]></category>
		<category><![CDATA[toronto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://medanissue.wordpress.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Teraih juga gelar kesarjanaan setelah 4 tahun menghabiskan waktu di ruang kuliah. Si Bange tersenyum menatap fotonya dalam sebuah bingkai foto lumayan besar. Lengkap dengan toga berlatar belakang lukisan buku-buku ilmiah. Foto yang diambil saat wisudanya yang baru lewat beberapa hari. Jamaknya para sarjana di negeri yang masih alergi dengan kewirausahaan ini, hari-hari Si Bange [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=471&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teraih juga gelar kesarjanaan setelah 4 tahun menghabiskan waktu di ruang kuliah. Si Bange tersenyum menatap fotonya dalam sebuah bingkai foto lumayan besar. Lengkap dengan toga berlatar belakang lukisan buku-buku ilmiah. Foto yang diambil saat wisudanya yang baru lewat beberapa hari.</p>
<p>Jamaknya para sarjana di negeri yang masih alergi dengan kewirausahaan ini, hari-hari Si Bange kini disibukkan dengan pencarian lowongan kerja. Semua benar-benar berubah. Ia yang dulu tidak pernah berlangganan koran, bahkan sangat jarang menyentuh koran, kini sudah berlangganan. Tak hanya satu koran, tapi tiga.</p>
<p>Alasan Si Bange berlangganan tiga koran lokal itu sederhana.<span id="more-471"></span> Dari halaman-halaman koran itulah langkahnya meneruskan aktifitas harian dan hidup dipermudah. Paling tidak, dari koran-koran yang rajin memuat iklan lowongan kerja itu, hari-hari Si Bange sementara ini terisi. Oleh pencarian, sebelum ia mendapat pekerjaan.</p>
<p>Pekerjaan apa saja, batin Si Bange sambil matanya sibuk membaca satu persatu iklan yang disodorkan. Ia memilih untuk tidak memilih-milih pekerjaan. Buatnya, dalam kondisi saat ini, yang penting bekerja. Tak perduli apakah pekerjaan itu sesuai dengan disiplin ilmunya atau tidak. Pun tak harus disesuaikan dengan minat atau kemampuan.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Saat sibuk mencari-cari, terdengar ketukan pintu rumahnya. Disusul suara yang memanggil namanya. Ia hapal betul pemilik suara itu. Kubi Kompu, temannya sekampus yang selalu jadi pusat perhatian kaum mahasiswa perempuan. Kubi dikenal jago basket dan aktif di berbagai kegiatan kampus.</p>
<p>Sigap Si Bange beranjak membukakan pintu depan. “Masuk, Bi,” ajaknya kepada Kubi.</p>
<p>“Sibuk apa kau? Susah nian bertemu kau sekarang,” Kubi masuk.</p>
<p>Si Bange mengajak Kubi ke kamarnya.</p>
<p>”Apa yang membuat kau tersesat kemari?,“ canda Si Bange yang kembali sibuk mencari peluang di halaman-halaman koran.</p>
<p>Dibiarkannya Kubi mengambil aktifitas sendiri. Sebab rumah Si Bange bukan ruang asing lagi bagi Kubi.</p>
<p>“Sama saja kau seperti aku sekarang. Cari lowongan kerja terus,“ Kubi tertawa. Tanpa menunggu Si Bange menjawab, ia melanjutkan,</p>
<p>“Susah kali menghubungi kau. Telepon rumah tak ada. Ponsel pun tak punya.“</p>
<p>“Aku belum sempat beli ponsel. Sibuk cari peluang kerja setelah sarjana,“ tanggap Si Bange.<br />
Kubi diam tak menyahut. Suasana yang mendadak hening membuat Si Bange mengalihkan pandangannya. Ia menatap Kubi.</p>
<p>“Kalau kau belum punya ponsel atau nomor yang bisa dihubungi, ke mana perusahaan yang tertarik dengan kualifikasimu menghubungi?,” ujar Kubi datar.</p>
<p>Si Bange diam. Benar juga logika itu, pikirnya. Si Bange memang tak memiliki ponsel selama ini. Ia merasa itu tidak perlu. Ia gampang ditemui. Di jadwal kuliah, ia pasti akan ada di kampus. Di luar itu, ia selalu di rumah. Kampus dan rumah adalah dua tempat yang dijajalnya selama ini. Tak lebih, tak kurang.</p>
<p>Membeli ponsel, batin Si Bange. Aku masih punya tabungan. “Ok. Temani aku membeli ponsel, Bi. Hari ini,” ajak Si Bange bersemangat. Tanpa menunggu persetujuan Kubi, ia bergegas. Kubi hanya mengikuti.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Si Bange sudah menemukan ponsel pilihannya. Namun, “Kartu perdananya,” kata Kubi.</p>
<p>“Yang bagus dan berjaringan lancar plus murah, kartu apa?,“ tanya Si Bange.</p>
<p>Kubi lantas merekomendasikan satu kartu. ”Dengan kartu SIM ini kau bisa berhubungan gampang dan murah kemana pun ke seluruh dunia. Bayangkan, nelpon ke Toronto lebih murah dibandingkan ke Tarutung,“ jelas Kubi. Si Bange mengiyakan.</p>
<p style="text-align:center;">*</p>
<p>Si Bange hanyut menatap ponselnya. Barang berbuah bisnis basah itu kini telah dimilikinya. Perusahaan yang kujatuhi lamaran kerja akan mudah menghubungiku, batin Si Bange. Sedang asyik-asyiknya memandangi ponsel, ia terhenyak. ”Tapi, siapa yang kukenal di Toronto, ya?“ (*)</p>
<p style="text-align:right;">/medan/08 mei 2010/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/medanissue.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/medanissue.wordpress.com/471/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=medanissue.wordpress.com&amp;blog=25872464&amp;post=471&amp;subd=medanissue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://medanissue.wordpress.com/2011/09/19/ponsel-perdana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4946d4a1a87d19e1bb4f8a86a092a14?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">medanissue</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
